Artidjo Alkostar Mengawali Langkah di Ranah Hukum Sebagai Mahasiswa

Peluncuran buku biografi Alkostar: Sebuah Biografi” di Bentara Budaya Yogyakarta, Selasa (29/8).

Oleh : Reza Duratin Nasira

Kiprah Artidjo Alkostar sebagai sosok penting di Mahkamah Agung telah banyak diketahui publik. Namun, sebelum menjadi Hakim Mahkamah, Agung Artidjo telah berupaya menegakkan keadilan sejak menjadi aktivis.

Banyak kisah pribadi Alkostar yang terungkap dalam diskusi buku “Akostar Sebuah Biografi”. Mulai dari kisah masa kecil, hingga kegiatan Alkostar setelah pensiun.

Kegiatan diskusi buku Alkostar Sebuah Biografi dilaksanakan di Bentara Budaya, Kota Baru, Gondokusuman, Kota Yogyakarta dan dihadiri oleh 100 pengunjung. Kegiatan diskusi buku ini merupakan bentuk kerjasama antara Ikatan Advokat Indonesia (IKADIN) Yogyakarta, Bentara Budaya Yogyakarta, dan Penerbit Buku Kompas.

Sepanjang diskusi tersebut terdapat empat pembicara, Dr. Artidjo Alkostar, Prof. Dr. Sudjito, S.H., M.Si (Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada), Kamal Firdaus, S.H. (Praktisi Hukum), dan Puguh Windrawan, S.H., M.H. (Penulis). Kegiatan diskusi ini dilaksanakan sebagai bentuk peghormatan atas Artidjo Alkostar.

“Kisah Artidjo menarik untuk dibukukan melalui metode storytelling (bercerita) agar mudah dipahami siapa pun yang membacanya,” kata Puguh Windrawan, penulis buku “Akostar Sebuah Biografi”. Puguh juga berkata, buku yang berjudul Alkostar Sebuah Biografi terbagi menjadi tiga bagian, masa kecil, masa aktivis, hingga masa sebagai kiprah Mahkamah Agung.

“Buku ini banyak menceritakan kisah Artidjo sebagai aktivis, karena kiprah Artidjo sebagai aktivis tak banyak diketahui oleh banyak orang, ” kata Puguh.

Buku setebal 257 halaman ini diawali oleh cerita masa kecil Artidjo di Sumenep, Jawa Timur, dilanjutkan dengan kisahnya menjadi mahasiswa, kisah-kisah perlawanan untuk membela ketidakadilan, mengambil short course di Amerika Serikat, beragam kisah di Lembaga Hukum Yogyakarta, hingga kemudian ditunjuk sebagai Hakim Agung serta kisah pertemanan Artidjo.

Unggahan Penulis Buku Alkostar : Sebuah Biografi. Sumber : Instagram

Kegiatan diskusi tersebut menyinggung kegiatan Artidjo Alkostar sebagai aktivis sosial dimulai ketika menjadi mahasiswa. Dikenal sebagai mahasiswa yang kerap berorganisasi, Artidjo tergabung dalam organisasi.

“Ketika saya mahasiswa, saya ikut Dewan Mahasiswa dan kerap ikut demonstrasi,” kata Artidjo.

Saat menjabat sebagai Ketua Presidium Mahasiswa UII, Artidjo mengumpulkan ketua Dewan Mahasiswa yang berasal dari luar kampus Islam se-Indonesia untuk saling berdiskusi terkait isu-isu sosial dan politik.

Selama menjadi mahasiswa pula, Artidjo kerap menyampaikan protes dalam menghadapi kebijakan kampus yang memberatkan mahasiswa. Berkat sikap kritis Artidjo terhadap isu-isu sosial politik, membawa Artidjo menjadi anggota redaksi majalah Muhibbag tahun 1973.

Artidjo melanjutkan perjalanannya sebagai aktivis sosial dan bergabung dalam Lembaga Batuan Hukum (LBH) Yogyakarta. Selama menjadi aktivis LBH, Artidjo menerima banyak keluhan terutama dari mahasiswa yang ingin melakukan perlawanan atas sistem pemerintahan Orde Baru.

Pola pikir dan tindakan Artidjo kerap berlawanan dengan pemerintah. Salah satu perlawanan yang diberikan oleh LBH Yogyarakarta adalah mendampingi mereka yang mengalami ketidakadilan (hal. 60).

Di pengujung acara, dalam sesi tanya jawab dengan audiens. Terdapat seorang audiens bernama Syarif yang mengutarakan pendapatnya akan apa yang seharusnya dilakukan oleh mahasiswa hari ini, dengan mengatakan bahwa apabila mahasiswa saat ini tidak peduli akan masalah yang ada di masyarakat, mereka seharusnya malu.

“Pada tahun 1978, mahasiswa memiliki peran besar dalam pendirian LBH di Yogyakarta. Hari ini, saya kerap melihat mahasiswa saat ini kerap mengadakan  demonstrasi, namun kemudian hanya berakhir di istana dan lalu tidak terdengar lagi kelanjutannya. Saya merasa saat ini mahasiswa berdemonstrasi hanya untuk menikmati euphoria saja, bukan benar-benar mengecam ketidakadilan. Saya berharap mahasiswa sekarang mau belajar banyak dari Artidjo, dan benar-benar memiliki niat untuk membawa perubahan bagi masyarakat,” kata Syarif.

Artidjo menanggapi tanggapan tersebut dengan mengatakan bahwa,

“Saya rasa mahasiswa tak perlu belajar banyak dari saya. Mahasiswa hanya perlu untuk belajar keikhlasan dalam memperjuangkan hak masyarakat.”

 

Kegiatan diskusi tersebut menyinggung kegiatan Artidjo Alkostar sebagai aktivis sosial dimulai ketika menjadi mahasiswa. Dikenal sebagai mahasiswa yang kerap berorganisasi, Artidjo tergabung dalam organisasi.

“Ketika saya mahasiswa, saya ikut Dewan Mahasiswa dan kerap ikut demonstrasi,” kata Artidjo.

Saat menjabat sebagai Ketua Presidium Mahasiswa UII, Artidjo mengumpulkan ketua Dewan Mahasiswa yang berasal dari luar kampus Islam se-Indonesia untuk saling berdiskusi terkait isu-isu sosial dan politik.

Selama menjadi mahasiswa pula, Artidjo kerap menyampaikan protes dalam menghadapi kebijakan kampus yang memberatkan mahasiswa. Berkat sikap kritis Artidjo terhadap isu-isu sosial politik, membawa Artidjo menjadi anggota redaksi majalah Muhibbag tahun 1973.

Artidjo melanjutkan perjalanannya sebagai aktivis sosial dan bergabung dalam Lembaga Batuan Hukum (LBH) Yogyakarta. Selama menjadi aktivis LBH, Artidjo menerima banyak keluhan terutama dari mahasiswa yang ingin melakukan perlawanan atas sistem pemerintahan Orde Baru.

Pola pikir dan tindakan Artidjo kerap berlawanan dengan pemerintah. Salah satu perlawanan yang diberikan oleh LBH Yogyarakarta adalah mendampingi mereka yang mengalami ketidakadilan (hal. 60).

Di pengujung acara, dalam sesi tanya jawab dengan audiens. Terdapat seorang audiens bernama Syarif yang mengutarakan pendapatnya akan apa yang seharusnya dilakukan oleh mahasiswa hari ini, dengan mengatakan bahwa apabila mahasiswa saat ini tidak peduli akan masalah yang ada di masyarakat, mereka seharusnya malu.

“Pada tahun 1978, mahasiswa memiliki peran besar dalam pendirian LBH di Yogyakarta. Hari ini, saya kerap melihat mahasiswa saat ini kerap mengadakan  demonstrasi, namun kemudian hanya berakhir di istana dan lalu tidak terdengar lagi kelanjutannya. Saya merasa saat ini mahasiswa berdemonstrasi hanya untuk menikmati euphoria saja, bukan benar-benar mengecam ketidakadilan. Saya berharap mahasiswa sekarang mau belajar banyak dari Artidjo, dan benar-benar memiliki niat untuk membawa perubahan bagi masyarakat,” kata Syarif.

Artidjo menanggapi tanggapan tersebut dengan mengatakan bahwa,

“Saya rasa mahasiswa tak perlu belajar banyak dari saya. Mahasiswa hanya perlu untuk belajar keikhlasan dalam memperjuangkan hak masyarakat.”