Pamulangan Sekar, Warisan Pendidikan Macapat

Keraton Yogyakarta berusaha melestarikan warisan budaya Jawa dengan membuka lembaga seni Pamulangan Sekar (Macapat)

Oleh: Dyah Ayu Pitaloka

Di sebelah selatan Alun-Alun Utara, tepatnya di Jalan Rotowijayan Nomor 3, terdapat lembaga seni dan budaya macapat pertama di Yogyakarta bernama Pamulangan Sekar (Macapat) KHP. Kridha Mardawa Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Pamulangan Sekar adalah sekolah kesenian macapat di bawah naungan Keraton Yogyakarta yang juga membawahi sekolah dalang dan sekolah karawitan.

Sekolah yang berdiri pada 1960 ini menetap di bekas rumah dinas seorang abdi dalem kesenian keraton. Secara turun-temurun, pamulangan macapat menjadi tanggung jawab pamong atau abdi dalem yang merangkap pengajar.

“Saya dan kawan-kawan pamong diberikan izin untuk mengajar macapat pada masyarakat dengan satu syarat, tembang-tembangnya asli dari sini (keraton),” kata Projo, salah seorang pengajar.

Kegiatan belajar dipangku oleh tiga orang pamong yaitu Projo (Kanjeng Mas Tumenggung Projo Suwarsono), Wakidu (Mas Riyo Dwijo Cipto Wandowo), dan Suradi (Mas Ngabehi Joyo Atmojo). Materi pembelajaran terdiri dari Sekar Alit setiap Senin dan Kamis, Sekar Tengahan setiap Selasa dan Jumat, kemudian Sekar Ageng pada Rabu dan Sabtu. Pamulangan juga melayani baca tulis huruf Jawa Hanacaraka pada hari Jumat.

Kelas kesenian macapat ini dipenuhi murid-murid dengan latar belakang yang berbeda. “Saya tertarik mendalami bahasa Jawa karena kedalaman sastranya. Setiap kata itu memiliki makna yang sangat saya kagumi.,” kata M. Fahrur Rozi, mahasiswa asal Lombok yang mengikuti kelas pamulangan macapat.

Sementara itu, Wandani, seorang murid yang merupakan pensiunan PNS, mengatakan,. “Saya orang Jawa dan pada waktu kecil saya  senang menembang Jawa,” katanya.