Lava Tour: Hikmah Di Balik Erupsi Merapi 2010

Oleh: Firza Prima Putra

 

Sriyanto membuka kios souvenir miliknya sendiri untuk dijadikan salah satu sumber utama penghasilannya dan orang tuanya.

Lava Tour”, salah satu destinasi wisata Yogya di daerah lereng Merapi, memiliki beragam objek dan lokasi wisata menarik bagi wisatawan. Suksesnya lokasi wisata ini merupakan bentuk kebangkitan warga desa dari rasa duka terhadap bencana erupsi Merapi tahun 2010.

Museum Mini Sisa Hartaku, salah satu lokasi wisata lava tour ini selalu memberikan banyak cerita kepada pengunjungnya. Museum ini merupakan galeri dari sisa barang rumah tangga milik warga Dusun Petung, Sleman, yang terkena erupsi Merapi tahun 2010.

Dikenalnya museum tersebut sebagai objek wisata Yogya, merupakan perjuangan warga “bangkit” kembali dari luka bencana erupsi Merapi tahun 2010. Salah satunya Sriyanto, pendiri museum sekaligus anak dari pemilik sisa rumah galeri.

Sriyanto mengaku bahwa museum tersebut awalnya merupakan ide tidak sengaja untuk mengumpulkan barang rumah tangga sisa. Didasari oleh rasa penasaran dengan keadaan sisa barang-barang miliknya serta  mengobati rasa sakit hati, Sriyanto menjadikan sisa rumahnya menjadi galeri untuk kenang-kenangan pribadi.

“Saya pribadi senang berbagi ilmu dan pengetahuan tentang erupsi kemarin. Ya dengan barang-barang sisa bisa saya jadikan galeri, harapannya semoga wisatawan bisa mengerti bagaimana rasanya menjadi korban bencana erupsi Merapi itu,” ungkap Sriyanto, saat ditemui di museum, sabtu (17/3/2018).

Museum tersebut terdiri dari 2 rumah, rumah milik Sriyanto sendiri dan rumah milik orang tuanya, Pak Kimin dan Ibu Wati.

“Rumah saya sendiri saya bangun ulang atapnya dengan seng, lalu rumah orang tua saya yang hanya sisa lantai saja, saya bangun ulang dindingnya untuk dijadikan galeri,” tambah Sriyanto.

Ia menambahkan, saat rumahnya telah menjadi objek wisata, ia kemudian mencari tambahan barang-barang lainnya milik tetangga-tetangganya.

“Kalau boleh minta ya saya minta, kalau ternyata harus beli ya barangnya dibeli selagi saya mampu. Tujuannya untuk menambah barang di galeri dan menjadi informasi tambahan,” ujar Sriyanto.

Beberapa warga Dusun Petung akhirnya ada yang membuka warung dan menjual berbagai souvenir dan makanan sebagai sumber mata pencaharian mereka.

Sriyanto menjelaskan, sumber penghasilan mereka dari sewa kios warung, juga dari dana parkir wisatawan. Kios dan pengelolaan parkir semuanya diurus oleh pemerintah.

Mengenai Lava Tour. Ia menjelaskan bahwa museum mini tersebut langsung bergabung sejak awal dibentuknya wisata Lava Tour tersebut.

“Akhirnya banyak pihak yang mengajak kerjasama untuk jadi tempat wisata. kerjasama dengan klub mobil jip juga, dengan dinas pariwisata juga,” terang Sriyanto.

Saat ditanya mengenai awal pembangunan ulang daerah lereng, Sriyanto mengungkapkan hal pertama yang dilakukan oleh warga yaitu penghijauan daerah sekitar.

Ia menambahkan, karena tanah tertutup abu, saat itu muncul bencana sekunder banjir bandang ketika tiba hujan dalam beberapa hari.

“Jadi setelah erupsi selesai, seluruh tanah sekitar ini tertutup abu vulkanik. Abu ini tidak bisa ditembus air, padahal sedang musim hujan, sehingga warga dan relawan akhirnya sama-sama membersihkan abu itu dulu,” jelas Sriyanto.

Sriyanto membuka kios souvenir miliknya sendiri untuk dijadikan salah satu sumber utama penghasilannya dan orangtuanya.

Ia menjelaskan, rumahnya pertama kali dikunjungi wisatawan yaitu pada tanggal 4 April 2011, sekitar 6 bulan setelah hari-H erupsi. Kabar keberadaan rumahnya sebagai musium pun disebarkan melalu mulut ke mulut.

“Awalnya orang-orang penasaran dengan tulang sapi, kemudian masuk ke dalam-dalam mereka makin penasaran dengan barang-barang lain seperti gelas meleleh, tv, dan ada jam juga yang meleleh dan menunjukkan waktu erupsi kapan,” ujar Sriyanto.

Sementara itu, salah satu supir jip wisata Lava Tour, Mardjiono, mengungkapkan bahwa jalanan berbatu yang kini dijadikan medan wisata dulunya merupakan jalanan aspal.

“Jalanan bisa jadi berbatu karena efek erupsi. Kena abu panas, melelehkan aspal sampe merusak dan jadinya bolong-bolong dan berbatu seperti ini,” ungkap Mardjiono saat ditemui di wisata Batu Alien.

Mardjiono menambahkan, pemerintah Kabupaten Sleman dulunya ingin membeli tanah dan jalanan daerah lereng Merapi, namun warga desa sekitar menolak. Dengan alasan jika tanah dan jalanan sekitar dibeli pemerintah maka warga tidak dapat mengolah daerah tersebut menjadi tempat wisata secara mandiri.

“Kami tidak mau tanah ini dibeli, walaupun jalanannya rusak, kami bisa mengolahnya menjadi mata pencahariaan sendiri. Kalau dibeli dan diperbaiki pemerintah, tidak ada suatu hal unik yang bisa kami jual dengan tempat wisatanya,” terang Mardjiono.

Salah satu supir jip lainnya, Ipang Nugroho, mengatakan ia tidak menyangka bahwa bencana dapat mendatangkan rezeki untuk beberapa orang, ia menjelaskan bahwa tempat wisata ini merupakan bentuk kebangkitan warga dari rasa duka.

“Jika meninggalkan luka, jelas iya. Semua warga desa bahkan satu Yogya memiliki kenangan buruk dengan erupsi Merapi. Namun siapa sangka, ada hikmah besar yang tersimpan dibalik bencana itu,” ujar Ipang saat ditemui di kantor jeep adventure, Minggu (26/2/2018).

Vinni, salah satu pengunjung musium mini, mengatakan kreativitas warga dalam mengolah daerah sisa bencana menjadi suatu yang patut dicontoh masyarakat.

“Menjadikan daerah bencana menjadi sesuatu yang kreatif dan edukatif seperti ini memberikan dampak baik, apalagi juga mampu memberikan pesan. Sangat keren dengan hal seperti ini kami bisa  merasakan pengalaman bencana erupsi kepada seluruh pengunjung yang dari berbagai daerah di Indonesia,” ujar Vinni.

 

(Editor: Ismail Yusuf)