Angkat Konsep Pedesaan, Pasar Inis di Purworejo Memiliki Daya Tarik Unik

Tradisi Senam PeDe saat sinar matahari mulai memancar (21/2/2021).

Oleh: Whafir Pramesty

Nama Inis atau ‘nginis’ dalam bahasa Jawa yang berarti sejuk dan semilir memberikan nuansa khas pedesaan.

Unik, alami, dan tradisional. Tiga kata tersebut rupanya cocok untuk mendeskripsikan Pasar Inis, destinasi digital milik Generasi Pesona Indonesia (GenPI) yang berlokasi di Desa Brondongrejo, Purwodadi, Purworejo. Pasar Inis berjarak sekitar 12 KM dari selatan pusat kota Purworejo. Nama Inis atau ‘nginis’ dalam bahasa Jawa yang berarti sejuk dan semilir memberikan nuansa khas pedesaan. Lokasinya yang berada di area persawahan ini memang cocok untuk menghirup udara segar sembari merasakan angin sepoi-sepoi di pagi hari.

Buka setiap hari Minggu pukul 05.00-11.00 WIB. Pasar Inis menonjolkan konsep pedesaan dengan properti yang terbuat dari bambu, kayu, dan jerami. Para pedagang pun sangat menjunjung budaya Jawa dengan berbusana adat dan memakai caping. Tidak hanya itu, banyak keunikan lain yang menjadi ciri khas Pasar Inis mulai dari alat transaksi, kuliner tradisional, dan fasilitas yang disediakan.

“Pasar Inis ini pasar wisata yang mengambil (konsep) kedesa-desaan karena memang kami orang desa, kami memakai kebaya, memakai caping, dan memakai kain, karena untuk menunjukkan identitas di Pasar Inis,” ungkap Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Inis, Ester Yuni Astuti.

“Ya karena memang sekarang sudah jarang sekali ya kami ketemukan baju-baju adat jawa dan kami juga ingin mengangkat kembali agar budaya kita tidak hilang,” tambahnya.

Berbeda dengan yang lain, alat transaksi di Pasar Inis justru menggunakan uang dari bambu atau dit pring. Setiap pengunjung yang datang akan menukarkan uangnya dengan dit pring yang bernilai angka 1, 2, 5, dan 10 (dalam ribuan). Alat pembayaran ini menjadi daya tarik tersendiri yang mampu menyerap 1ratusan pengunjung setiap minggunya.

Dari segi kuliner yang disediakan, sebagian besar makanan berbahan dasar singkong atau bahan lokal hasil bumi Desa Brondongrejo dan sekitarnya. Ada pula aneka minuman dengan berbagai warna dan nama-nama yang unik.  Kisaran harga makanan dan minuman yang dijual pun cukup terjangkau, yaitu seribu hingga sepuluh ribu. Menariknya, dagangan di Pasar Inis sangat berprinsip pada sifat ramah lingkungan.

“Di sini (Pasar Inis) pewarnanya alami, masakannya itu diusahakan untuk mengurangi bahan kimia, lalu bungkusnya tidak boleh memakai plastik, jadi kita pakai daun atau kertas,” ujar Sulis Ari Setyowati, pedagang di Pasar Inis.

Pengunjung dapat duduk menikmati jajanan di deretan bangku yang sudah tertata rapi sembari memandang hamparan sawah yang luas dan mendengarkan orgen. Pemandangan yang disuguhkan sangat memanjakan mata apalagi terlihat penampakan gunung yang mendukung sekali untuk bergaya dan berswafoto. Jika bosan, pengunjung dapat mencoba permainan tradisonal yang disediakan seperti egrang, bakiak, dan ada juga ayunan.

“Ini pengalaman pertama (berkunjung), menarik sih di sini tempatnya, ya gitu lah unik dan menarik, mungkin next time kesini lagi,” kesan Yuni Puji Rahayu, pengunjung yang sedang asyik berfoto.

Selain itu, di Pasar Inis terdapat tradisi senam bareng yang bernama senam PeDe atau Pepe Dede yang berarti senam yang terkena sinar matahari dan ceria. Senam bareng dilakukan ketika sinar matahari mulai panas sekitar pukul 08.30 WIB. Saat itu, aktivitas berjualan terhenti sejenak, penjual dan pengunjung senam bersama di halaman Pasar Inis.

Sementara, aktivitas Pasar Inis selama pandemi tetap berjalan, kecuali jika memang diliburkan oleh pemerintah karena anjuran untuk di rumah saja. Perubahan yang terjadi hanya adanya protokol kesehatan yang harus diterapkan. Siapapun yang datang wajib memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Di pintu masuk sudah disediakan masker yang bisa dibeli apabila tidak membawa dan disediakan pula tempat mencuci tangan beserta sabunnya. Kemudian, tempat duduk di dalam pasar juga sudah ditata dengan jarak tertentu. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak patuh pada peraturan.

“Kalau seandainya kami melihat pengunjung yang tidak memakai masker kami harapkan bisa beli, kami juga menjual masker, (nuwun sewu) jika masih ngotot ya saya persilakan untuk pergi saja,” ucap Ester Yuni Astuti.