Paguyuban Mataya: Anak Muda Lestarikan Sendratari

Kegiatan rapat rutin Paguyuban Mataya (10 Maret 2021)
Sumber: foto pribadi Icak Fikri Kurniawan

Oleh: Muhammad Fathul Huda

Didirikan pada 2019 oleh para siswa SMKI Yogyakarta, Paguyuban Mataya bertujuan melestarikan seni tari khas Yogyakarta melalui latihan rutin dan berbagai pementasan dengan melibatkan berbagai kalangan.

Berbasis di di rumah salah anggota komunitas di Mrican, Umbulharjo, Paguyuban Mataya menyelenggarakan latihan rutin yang diikuti oleh tiga belas sampai empat belas anak muda. 

Icak Fikri Kurniawan (17) bersama empat belas temannya mendirikan komunitas ini berawal dari rasa terkekangnya kreativitas pementasan dan ingin mengembangkan pemikiran-pemikiran dari mereka sendiri. Keinginan itu diwujukan dengan terbentuknya Paguyuban Mataya ini yang ditujukan untuk menarik minat anak muda untuk ikut melestarikan budaya tari khas Yogyakarta.

“Arti Mataya merupakan Simbol air yang digambarkan sebagai perjalanan hidup selalu kita terjang apapun itu rintangannya untuk menempuh masa depan,” terang Fikri. Nama Paguyuban Mataya diambil dari Bahasa Jawa Kawi ‘dumadining taya’ yang berarti penari yang mengikuti arus air.

Paguyuban ini pada awalnya dilihat sebagai rasa kebersamaan antara satu anggota dan yang lainnya. selain itu, rasa semangat di dalam diri anggota untuk membuat pementasan atau berkarya dengan mengatas namakan Paguyuban Mataya.

“Yang ingin kami kembangkan, antara lain adalah memperkenalkan kesenian tari atau budaya peninggalan nenek moyang indonesia khususnya Yogyakarta kepada masyarakat sekitar D.I Yogyakarta agar tidak lupa dengan adanya kesenian daerahnya,” jelas Rhaven Grefianinto Yolapanean.

Untuk mencapai tujuan ini, Paguyuban Mataya menawarkan konsep dari pementasan sendratari. Rhaven menjelaskan bahwa konsep ini tetap menggunakan lakon pewayangan, tetapi diolah menjadi tarian yang mudah diterima masyarakat khususnya anak-anak muda. Dengan tertariknya anak muda dengan seni tari ini, semoga akan menarik minat ikut serta dalam melestarikan budaya ini.

“Apa yang kami latih adalah tarian ragam, yaitu tarian yang mengambil gerakan khas dari tokoh lakon yang diangkat dalam pementasan. Misalnya tokoh Ramawijaya dengan gerakan khasnya impur atau tokoh Anoman dengan kambeng dengklik,” kata Icak. 

Rhaven Grefianinto Yolapanean selaku pimpinan produksi Paguyuban Mataya tahun 2020/2021 menjelaskan tentang adanya kegiatan di luar latihan, yaitu diskusi perkembangan produksi dari Paguyuban Mataya dan diskusi pendanaan untuk persiapan pentas.

“Kami mencoba melakukan pemantauan perkembangan dari latihan sendratari sebagi target capaian tiap bulannya dan mencari proposal sebagai pendanaan dikarenakan cara yang biasa kami lakukan seperti mengamen ataupun mengikuti perlombaan tidak bisa dilakukan kala pandemi ini,” terang Rhaven.

Selain kegiatan rutin itu, mereka sedang mempersiapkan dua pentas seni yang akan dilaksanakan bulan April dan Juli 2021. Bulan April nanti mereka diundang untuk pentas di Padepokan TJipta Boedaja Magelang dalam rangka memperingati Rasulan dengan membawakan tarian Lawung Jajar dari HB I bersama masyarakat sekitar. Kegiatan ini merupakan pementasan kedua mereka setelah 2019 lalu mementaskan sendratari untuk pentas bakti di Padepokan Tjipta Boedaja ini.

Pentas sendratari di Padepokan Tjipta Boedaja (21 Desember 2019)
Sumber: foto pribadi Icak Fikri Kurniawan

“Persiapan dari pentas sendratari di bulan Juli nanti masih pada memaksimalkan latihan dari tim artistik dan produksi. Kami mencoba memetakan tata letak panggung dan posisi dari kegiatan pementasan serta izin penggunaan gamelan dari Desa Wilateg,” terang Icak. Pentas bulan Juli akan diselenggarakan di Desa Wilateg, Karangmojo, Gunungkidul.

Sisnanto selaku penanggung jawab dari Desa Wilateg menyampaikan tentang tanggapan positif dan terbuka dari masyarakat tentang pementasan ini, di mana disampaikan olehnya warga sangat tertarik dan siap mendukung kegiatan seni serta kebudayaan ini. Beliau mengharapkan masyarakat akan terhibur dan anak-anak muda yang terlibat akan termotivasi untuk nguri-uri kabudayan jawi.

“Saya melihat anak-anak dari Paguyuban Mataya berusaha keras dengan mengusahakan pementasan yang akan dilakukan bulan juli nanti seperti survei tempat dan pembuatan proposal. Namun, semua akan dikembalikan pada keadaan sekarang ini masih pandemi di mana dalam peraturannya segala hiburan dan kerumunan dari masyarakat di daerah Gunungkidul masih belum bisa dilaksanakan,” pungkas Sisnanto tentang kekhawatirannya pada pementasan Juli nanti.