Olive Hateem: Tentang Duta Baca dan Upaya Menjembatani Pelaku Literasi Yogyakarta

Olive Hateem, Duta Baca Yogyakarta 2018-2019 (foto: Instagram @olivehateem)

Oleh: Nuha Khairunnisa

“Dengan atau tanpa label duta baca, aku akan tetap berkegiatan di dunia literasi, bahkan mungkin sampai aku mati—karena memang itu yang seumur hidup aku lakukan.”

Beberapa mengenal sosoknya dari media sosial. Lainnya mungkin pernah berinteraksi langsung di acara-acara bertajuk literasi. Dalam bidang tersebut, ia memang telah sejak lama jatuh hati.

Ialah Olive Hateem. Sosoknya dikenal luas oleh para pegiat literasi di Yogyakarta. Titel Duta Baca Yogyakarta yang pernah tersemat pada dirinya semakin menguatkan citra tersebut.

Dalam obrolan yang kami lakukan secara virtual, Jumat (7/5), Olive menuturkan pengalamannya menjadi duta baca. Ia juga berkomentar soal problem literasi masyarakat Indonesia yang jauh lebih kompleks dari sekadar minat baca yang (katanya) rendah.

Bagaimana awalnya kamu tertarik dengan duta baca? Apa yang memotivasi kamu mendaftar seleksi Duta Baca Yogyakarta 2018?

Mula-mula, aku bergabung dengan komunitas Klub Buku Yogyakarta (KBY) pada 2017. Pada 2018, teman di komunitas ada yang membagikan info soal pemilihan duta baca daerah di tiap provinsi, salah satunya Yogyakarta. Waktu itu, kami merasa perlu ada perwakilan dari KBY sebagai komunitas yang bergerak di bidang literasi untuk mendaftar jadi duta baca. Maka, aku dan beberapa kawan dari KBY mendaftar seleksi tersebut.

Motivasiku mendaftar sebenarnya bukan untuk mendapatkan label sebagai duta baca. Lebih dari itu, aku juga senang bertemu orang baru. Aku rasa posisi sebagai duta baca akan memberiku akses yang lebih luas ke pegiat literasi yang bisa kujadikan kawan dan koneksi.

Apa tugas kamu sebagai duta baca kala itu?

Tentunya bekerja untuk Dinas Perpustakaan Daerah Yogyakarta. Kami sebagai duta baca diberi kebebasan untuk membuat program kerja sendiri. Aku membuat 20 program, yang ternyata cukup banyak jika dibandingkan daerah lain yang rata-rata hanya 5-10 program.

Kegiatan yang aku buat adalah diskusi buku, bedah buku, dan bincang-bincang yang berkaitan dengan literasi. Aku juga berkeliling ke sekolah-sekolah untuk mengobrol dengan para siswa, guru, dan orang tua, mencari solusi dari permasalahan literasi yang mereka hadapi.

Olive Hateem, saat dijumpai secara virtual di tengah jam kerjanya sebagai editor di Gradien Mediatama, Jumat (7/5/2021).

Solusi seperti apa yang kamu tawarkan untuk menyelesaikan permasalahan literasi di Yogyakarta?

Sebenarnya, aku lebih memosisikan diri sebagai jembatan yang menghubungkan para pelaku buku dan literasi, sih. Hal ini kulakukan karena aku merasa tidak semua pihak mau atau punya akses untuk saling menghubungi satu sama lain. Misalnya, banyak penerbit di Yogyakarta yang menumpuk buku-buku mereka yang sudah tidak bisa dijual. Mereka bingung harus menyalurkan buku ke mana. Memang banyak taman bacaan, tapi belum tentu taman bacaan itu tepat untuk menerima jenis buku yang mereka punya. Kalau sudah begitu, biasanya aku akan mencarikan taman bacaan yang sekiranya cocok menampung buku-buku tersebut.

Apakah menjadi duta baca membawa pengaruh bagi kehidupan kamu? Jika iya, bagaimana dampaknya?

Sejujurnya, aku kurang nyaman kalau terus disebut-sebut sebagai duta baca. Buatku sendiri, mau sebagai duta baca atau tidak, aku akan tetap berkegiatan di dunia literasi, bahkan mungkin sampai aku mati—karena memang itu yang seumur hidup aku lakukan.

Dibandingkan duta baca, sebenarnya yang lebih banyak membawa pengaruh dalam hidupku adalah kesempatan berkuliah di Jogja. Di Jogja banyak penerbit dan pegiat literasi, juga banyak penulis yang aku suka tinggal di Jogja.  Setelah merantau, aku bertemu banyak orang baru dan dapat banyak perspektif baru tentang segala hal.

Data UNESCO menyebutkan Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 negara dalam hal minat baca, dengan angka 0,001%. Artinya, dari 1000 orang Indonesia, hanya satu orang yang gemar membaca. Menurut kamu, faktor apa yang menyebabkan orang Indonesia malas membaca?

Aku percaya bahwa permasalahan literasi di Indonesia sebenarnya bukan hanya minat baca, tapi juga akses terhadap bacaan. Aku pernah mengisi gelar wicara di suatu desa yang internetnya masih susah. Ketika aku tanya ke mereka, “Kalian mau buku apa?” mereka bilang tidak ingin buku. Mereka maunya motor.

Dari situ, aku sadar bahwa akar persoalan literasi itu panjang dan bercabang. Ada permasalahan sosial, ekonomi, pendidikan, dan sebagainya. Wawasan ini juga yang aku dapatkan dari mengobrol dengan duta baca dari daerah lain, terutama dari wilayah Indonesia bagian timur yang akses terhadap bacaannya sangat miris.

Kehadiran internet bisa memberikan akses yang begitu luas terhadap sumber bacaan. Di sisi lain, penggunaan gawai dan internet yang masif mendistraksi orang dari aktivitas membaca. Bagaimana menurut pandanganmu?

Aku melihat gawai bukan menjauhkan anak muda dari bacaan, tapi memang dari kecil mereka lebih dekat dengan gawai dibandingkan buku bacaan. Maka, ketika bosan, mereka memilih main gawai alih-alih baca buku. Akan berbeda jika anak dikenalkan dengan buku sejak kecil, dan dibatasi penggunaan gawainya. Secara alami, dia akan lebih memilih buku daripada gawai. Jadi, ini kembali lagi ke lingkungan tempat masing-masing orang tumbuh. Tidak bisa disamaratakan.

Makanya, aku sering kasih saran buat kenalanku yang punya adik atau anak, kalau bisa anaknya dikasih akses ke bacaan, bukan cuma gawai. Jadi, penggunaan gawai harus dibatasi dan dibuat seimbang dengan aktivitas membaca.

Sebagai seseorang dengan banyak pengikut di media sosial, apakah kamu turut memanfaatkan platform tersebut untuk mempromosikan aktivitas membaca?

Bisa dibilang iya. Sejak awal membuat akun Instagram pada 2017, aku membangun personal branding sebagai pembaca. Kebanyakan konten yang aku bagikan juga berkaitan dengan buku.

Kalau Twitter, awalnya aku gunakan untuk berkomunitas. Di tahun 2012-2013, aku juga sempat aktif membagikan tulisan, jadi branding-ku lebih ke pembaca yang suka menulis. Foto-fotoku pun kebanyakan sedang memegang buku, karena itu adalah kegiatan utama yang ingin aku bagikan kepada orang-orang.

Berdasarkan pengamatan dan perkiraanmu, akan seperti apa kondisi minat baca Indonesia di masa mendatang?

Dengan teknologi yang semakin berkembang, aku tidak yakin apakah akan makin banyak orang baca buku atau makin berkurang. Tapi, aku yakin akan selalu ada peningkatan meskipun perlahan. Karena kalau dilihat di media sosial dan orang-orang yang aku kenal, sebenarnya pembaca di Indonesia masih sangat banyak. Di Twitter saja ada akun autobase, namanya Literary Base, yang punya pengikut lebih dari 100.000 orang.

Jadi, aku masih punya harapan yang cukup besar akan dunia literasi di Indonesia. Yang penting adalah meningkatkan kualitas pembaca yang sudah ada. Kalau kualitasnya bisa ditingkatkan, pasti perlahan-lahan kuantitasnya juga akan mengikuti. (Editor: M. Fadhil Pramudya P.)